Tuesday, August 11, 2020

PANDANG BASWARA (bagian 1)

 

         Siang itu terasa begitu panas setelah keluar dari ruangan ber AC, Agnibrata sapaan barunya di kampus, nama lengkapnya Agnibrata baswara yang bisa di artikan berjiwa hangat nan berkilau. sosok yang apadanya dengan uang bulanan yang cukup hanya untuk bensin motor bebeknya yang tanpa tebeng depan, ya motor tersebut memang demikian karena belum dicarikan gantinya. Ya, uang sangu kuliahnya mana cukup untuk beli hal seperti itu. Agnibrata yang sehari harinya tidak pernah jajan dikampus karena memang untuk menghemat uangnya yang pas pasan. Dia sempat suka sama seoarang cewek di kampusnya, teman kelasnya, namun melihat dompetnya yang apa adanya dan kebiasaan cewek hedon yang suka ke mall, kebetulan kampusnya dekat sekali dengan mall, sehingga mall itu identik dengan mall mahasiswa kampus tersebut, mall mahasiswa yang harga di dalamnya tidak seperti kantong mahasisswa, Cuma isinya pasti dari mahasiswa sekitar, biasanya pada saat beasiswa bidikmisi keluar, mall itu akan penuh oleh mahasiswa yang katanya miskin tapi bisa ganti hp setiap 3 bulan, karena beasiswa ini kadang cair setiap 3 bulan. Satu hal orang yang sebenarnya mampu namun dapat beasiswa ini adalah hanya karena orang tuanya bukan pegawai negeri, namun punya usaha yang penghasilan sudah cukup,. Hal inilah yang tidak terdeteksi kekayaan suatu keluarga, hingga bisa mendapatkan bwasiswa yang diperuntukkan bagi orang miskin, bahkan ada yang pinjem rumah yang jelek saat dilakukan survei ke rumah masing-masing

»»  READMORE...

Tuesday, July 28, 2020

Sebuah Dasar dalam Proses Pencarian Jati Diri

Berjalannya waktu dan bertambahnya ilmu pengetahuan serta wawasan dari berbagai upaya yang kita lakukan akan membuat kita berbeda cara berfikir dalam melihat suatu hal. Salah satu yang merubah arah pandangan saya setelah membaca buku terkenal karya Ary Ginanjar yang berjudul ESQ terbit tahun 2001. Menjelaskan tentang tujuan hidup yang sebenarnya, yaitu menjadi bahagia, tujuan yang semua manusia kejar dengan cara masing-masing. Namun ada sedikit pesan tersirat dalam buku ini, yaitu dalam proses pencarian ilmu pengetahuan, buku ini tidak hanya menjelaskan secara sains dan pengetahuan barat namun juga menyeimbangkan dengan dasar  dari Al-Quran, sesuatu yang mengingatkan saya dan kita, ketika dalam proses mencari ilmu. Pencarian ilmu tanpa keseimbangan dengan ilmu Agama akan membuat kita menjadi sekuler (memisahkan Agama dengan kehidupan sehari-hari atau agama hanya ilmu untuk menyembah Tuhan) inilah yang tidak disadari dan banyak orang terlanjur menjadi sekuler (dikotomi agama dan sains). Hal ini sudah di uraikan oleh Ary Ginanjar ketika dalam pencarian jati diri yang panjang dan semua tujuan hidupnya tercapai namun belum merasa tenang akan hidupnya, sampai dia menyeimbangkan pengetahuan umumnya dengan ilmu Agama. Contoh Kalimat yang biasa di ucapkan oleh orang sekuler adalah “Yang penting Baik pada semua orang walaupun jarang beribadah”
»»  READMORE...

Friday, July 24, 2020

2 SUDUT PANDANG TENTANG MADURA


2 SUDUT PANDANG TENTANG MADURA
            Kita tahu bahwa pengalaman dan wawasan kita berpengaruh terhadap suatu sudut pandang tentang apapun, oleh karena itu saat aku jarang atau belum pernah menetap lama diluar madura walaupun banyak keluarga juga yang tinggal dan menetap di Jawa, aku tidak tahu bagaimana pandangan orang luar madura terhadap madura, kecuali hanya pandangan umum seperti penokohan karakter orang madura dalam sinetron atau pun film, yaitu sebagai penjual Sate dengan logat Maduranya yang di analogikan mengulang-ulang sebuah kata
»»  READMORE...

Monday, July 20, 2020

RELATIVISME KEBENARAN


“Kebenaran kita berkemungkinan salah. Kealahan orang lain berkemungkinan benar. Hanya kebenaran Tuhan yang benar-benar” salah satu kalimat yang banyak kita jumpai dalam perkembangan baru-baru ini. Seperti ini banyak yang menjadi pegangan orang-orang paham Gnostik, yaitu orang-orang yang mengutamakan ilmu pengetahuan dari segala hal. Kalimat itu tidak bisa diberlakukan secara umum, dan karenanya ia memiliki batasan-batasan dalam penerapannya sendiri. Pembatasan itu adalah suatu niscaya, sebab jika tidak tentu itu bisa merelatifkan segala sesuatu. Termasuk hal-hal yang sudah tetap dalam agama (Tsawabif). Karenanya kata-kata itu tidak boleh berlaku dalam aspek-aspek dari ajaran keagamaan yang didasarkan pada dalil Qath’I (definitif yang bersifat pasti)
»»  READMORE...